Kamis, 07 Mei 2009

Fenomena Migrasi Burung di Sumatera

Selalu ada yang berubah di setiap tahunnya. Perubahan musim di daerah Sumatera dan ekuator terus berjalan sesuai pergerakan bumi di orbitnya. Hanya ada dua musim yakni musim penghujan dan musim kemarau. Berbeda pada daerah temperate (subtropis), mengalami siklus empat musim yang berbeda.

Perubahan dua musim di daerah tropis ternyata tidak seberpengaruh perubahan empat musim di subtropis. Musim dingin pada subtropis menimbulkan dilema tahunan bagi satwa di sana. Rantai makanan terputus sewaktu es mulai membeku. Serangga dan jenis mangsa hewan-hewan lainnya memilih berhibernasi (istirahat sepanjang musim dingin) di dalam lubang-lubang yang mereka bangun sendiri. Siklus ini umumnya terjadi pada hewan tingkat rendah serta vertebrata amfibi, reptil dan sebagian mamalia. Satwa ini sebelumnya telah mengumpulkan cadangan makanan semaksimal mungkin untuk melawan suhu di bawah nol derajat selama empat bulan musim dingin tersebut.

Fenomena lain ternyata tidak demikian terhadap vertebrata berbulu homeokiloterm (berdarah panas) seperti unggas. Mobilitas tinggi satwa berbulu itu tinggi memungkinkannya bermigrasi ke tempat yang lebih panas di bagian dunia lain. Belahan dunia bagian utara pada saat itu telah membeku. Sepanjang ekuator dan belahan bumi selatan merupakan alternatif lain sebagai habitat pendukung yang efesien karena di daerah ini tidak ada istilah pemutusan rantai makanan karena tidak dijumpai fluktuasi musim ekstrim.

Pulau Sumatera adalah sepotong surga bagi burung migran. Burung migran berpindah dari belahan bumi utara (Asia Utara, Asia Timur laut dan Asia Selatan) untuk mencari makanan dan lokasi nyaman seperti hutan hujan tropis, sawah-sawah, aliran sungai, rawa serta daerah pantai berlumpur sepanjang pulau yang juga dipanggil Pulau Andalas ini. Sumatera adalah bagian dari flyway (jalur terbang) yang umumnya selalu dilintasi satwa migratory bird. Seperti yang telah dikemukakan Wishnu Sukmantoro, koordinator Asian Raptor Migrant Indonesia Program untuk Asian Raptor Research and Conservation (ARRC), bahwa dua flyway utama yang sebagai pintu masuk burung migran ke Sumatera adalah jalur besar Semenanjung Malaya dan dan jalur kecil dari Kepulauan Nicobar, India. Jalur besar Semenanjung Malaya meliputi jalur penerbangan mengikuti Kepulauan Riau (Bengkalis dan Rupat) kemudian bergerak menuju ke arah Tenggara melintasi Sungai Serka (Riau), Muara Banyuasin, Simpanggagas dan Sungai Sembilang (Sumatera Selatan), Lampung Timur, dan diperkirakan melewati Bakauheni untuk menuju ke Pulau Dua, Teluk Banten. Selanjutya jalur kecil dari kepulauan Nicobar melalui Kepulauan Nias dan Mentawai dan ke arah Sumatera Selatan dan Lampung bahkan sampai Jawa. Jalur kecil adalah jalur khusus bagi beberapa jenis burung satwa seperti elang-alap shikra (Accipiter badius). Jalur besar Semenanjung Malaya merupakan pintu utama masuknya burung migran ke pulau Sumatera. Burung-burung ini selanjutnya terus bermigrasi ke bagian selatan bumi termasuk ke benua Australia. Khusus jenis burung pemangsa (raptor) kelompok elang dan alap bermigrasi ke Pulau Jawa dan mentok di Nusa Tenggara sebagai terminal jalur migrasi burung pemangsa di Indonesia.

Jenis burung pemigran yang melintasi dan singgah ke Sumatera sangat tinggi. Termasuk jenis-jenis burung pemangsa seperti elang-alap shikra (Accipiter badius), jenis burung pantai seperti gajahan besar (Numenius arquata), biru laut ekor hitam (Limosa limosa), trinil bedaran (Xenus cinereus), jenis burung teresterial seperti sikatan pantat kuning (Ficedula zanthopygia) serta banyak berbagai jenis burung lainnya. Di Pulau Sumatera sendiri sudah ada tempat yang tergolong Important Bird Area (IBA), yakni lokasi yang penting bagi burung yang sudah menampung lebih dari 20.000 individu burung pada lokasi tersebut.

Apresiasi keberadaan burung migran ini di Pulau Sumatera tergolong masih ketinggalan dari pulau Jawa. Pulau Jawa relatif memiliki komunitas dan lembaga pecinta burung yang tinggi. Meskipun demikian keberadaan burung migran di Sumatera telah diteliti berbagai lembaga internasional, seperti ornop World Wildlife Conservation (WCS) di mana sekarang ini mereka aktif melakukan pencincinan kepada burung migran di Pantai Cemara, Jambi. Kegiatan ini perlu dilakukan sebagai inventarisasi dan membuktikan jalur terbang yang dipakai burung migran pantai tersebut. Langkah seperti ini sangat penting sebagai dasar-dasar konservasi.

Birdwatching (pengamatan burung) merupakan salah satu kegiatan yang sudah mendapat respon positif oleh masyarakat. Pengamatan burung sangat mengasyikkan dan mendidik. Sebagian besar birdwatcher adalah anggota LSM, pecinta alam, peneliti, mahasiswa, penduduk, serta hobiis burung adalah potensi tinggi pengembangan kegiatan birdwatching tersebut. Peralatan standar yang bisa membantu pengamatan antara lain teropong binokuler atau monokuler, buku identifikasi, note book, serta tambahannya berupa kamera dan tripod. Partisipasi pengamatan di setiap tempat sangat diharapkan dan saling men-share adalah aksi penting.

Di Sumatera Utara, pengamatan burung migran lebih terfokus ke burung air migran. Salah satu habitat penting bagi burung adalah Kawasan Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kawasan ini sudah terdaptar sebagai IBA yang ditetapkan oleh Birdlife Internasional. Sumatran Rainforest Institut (SRI) sudah mempunyai agenda rutin dalam pengamatan di kawasan ini. Bukan hanya SRI, Biologi Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (Biopalas) merupakan mapala di Universitas Sumatera Utara yang concern terhadap keberadaan burung air di Percut.

Momen tahunan pengamatan burung air migran adalah tergolong momen besar di Sumatera Utara. Di bawah payung AWC (Asian Waterbird Cencus), burung-burung air se-Asia dihitung. Tahun 2007 yang lalu, ditemukan sedikitnya 8.000 burung air migran di Percut. Perhitungan ini kemudian ditabulasi lalu dikirim ke koordinator nasional. Kegiatan ini dirancang oleh Wetlands International dengan satu koordinator setiap negara yang ada di Asia. AWC dilakukan pada bulan Januari secara suka rela oleh siapa pun yang tertarik dengan burung air, termasuk burung air migran.

Vektor Burung migran ke bagian selatan bumi terjadi pada setiap bulan Oktober-November sedangkan vektor balik dari selatan ke bagian utara bumi terjadi di bulan Februari-Maret. Burung ini kembali ke belahan bumi utara bertujuan untuk berbiak. Breeding (masa berbiak) selalu terjadi di temperate utara, tidak pernah burung migran berbiak di ekuator atau bagian selatan bumi. Perilaku ini merupakan siklus hidup burung migran setiap tahun dan perilaku ini sekaligus indikator diferensiasi antara burung migran dan penetap (residen).

Fenomena migrasi burung merupakan fenomena alam yang sangat menarik dan perlu pendalaman ilmu. Burung migran bisa melintasi berbagai negara serta “tidak mematuhi” peraturan negara mana pun. Mereka berkelana via flyway yang tertentu dan Pulau Sumatera adalah jalur terbang yang sangat penting.


Oleh : Akhmad Junaedi Siregar (Pengamat burung dan mahasiswa pecinta alam dan studi lingkungan hidup (BIOPALAS) Dept Biologi FMIPA USU)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar